Rabu, 04 Oktober 2017

Menelusuri Air Terjun Sumber Pitu Tumpang



 
air terjun sumber pitu Tumpang
Nama Air Terjun Sumber Pitu Tumpang menurut penduduk sekitar  berasal dari gabungan beberapa air terjun yang bersumber dari 7 tempat yang berbeda. Tapi sebenarnya jumlahnya kelihatan lebih dari tujuh deh....dan sekilas namanya mirip dengan Sumber Pitu yang ada di Pujon Batu. Namun, ini adalah sumbar pitu yang ada di kota Tumpang. Daerah Malang timur.

Air terjun Sumberpitu Tumpang terletak di Desa Duwetkrajan, kecamatan Tumpang.Kabupaten Malang. Desa Duwetkrajan merupakan desa paling selatan di wilayah Kecamatan Tumpang.dan juga desa paling timur yang berbatasan dengan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dari Kota Malang berjarak sekitar 30 km atau hanya 7 km di sebelah timur Tumpang. Kawasan wisata ini masih satu jalur menuju Coban pelangi dan Gunung Bromo via Ngadas.

Dan perjalanan saya kali ini adalah perjalanan pertama kali bagi saya mengexplore Air Terjun Sumber Pitu Tumpang. Kami seperti biasa (saya, istri dan adik ipar). Berangkat dari Sidoarjo pukul 08.00. bertiga kami melewati Purwodadi – Nongkojajar –Pakis – Tumpang – Sumber pitu. Sewaktu sampai daerah Tumpang perjalanan kami hentikan karena tiba tiba hujan mengguyur kami. Sontak kami berteduh di masjid terdekat daerah Tumpang. Setelah menunggu hampir 2 jam, kami dihinggapi rasa ragu antara meneruskan perjalanan atau tidak.karena hujan tak kunjung reda sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Sayang kalo di cancel karena perjalanan sudah di depan mata. Akhirnya kami bertekad meneruskan perjalanan.
Walau masih gerimis, kami bersiap meneruskan perjalanan. Berbekal peta dan informasi dari google. Kendaraan kami lajukan menuju Gubugklakah. Sampai di pertigaan balaidesa Wringinanom kami berhenti.  Di sini telah terpampang sebuah spanduk dan foto air terjun Sumberpitu tersebut. Dari pertigaan Desa Wringinanom ini air terjun Sumberpitu masih sekitar 3 km lagi. Dari sini, kami berbelok ke kiri dan akan memasuki ke Desa Duwetkrajan.

Setelah sampai di Balai Desa Duwetkrajan, kami bingung karena tidak menemukan banner atau petunjuk ke arah Air Terjun Sumber Pitu. Kemudian kami bertanya ke penduduk setempat dan di persilahkan untuk parkir di rumahnya. Memang belum ada parkir resmi yang di kelola warga. Setelah basa basi sejenak dengan penghuni rumah, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri perkebunan warga yang berbaasan dengan hutan. Lokasi air terjun Sumberpitu sendiri masih sekitar 2 km di sebelah utara Desa Duwetkrajan. Bagi yang mempunyai hobby tracking, mungkin air terjun Sumberpitu ini sangat cocok untuk dicoba. Jalur yang akan dilalui keadaannya berupa jalan dari tanah liat dan beberapa ada yang di semen namun sangat sempit, sehingga tidak dapat dilewati kendaraan bermotor. Selain itu jalannya berliku-liku, menantang dan terjal. Jalan ini sering dilalui oleh pendaki dan para tracker. Rute menuju Sumber Pitu juga cocok dilewati dengan kendaraan bermotor jenis trail. Sebab, banyak sekali kelokan, medannya juga cukup sulit, naik turun cukup curam.
 
parkir di rumah penduduk

start awal

gerimis di jalan

kondisi jalan

pertigaan jalan

melewati kebun bambu

tebing di pinggir sungai

jalanan semakin menurun

ada proyek pipanisasi

Selama perjalanan, hujan gerimis selalu menyertai kami. Walau kami disuguhi pemandangan yang eksotik dan luar biasa indahnya, perasaan kami senantiasa was was apabila hujan datang dengan derasnya. Setelah berputar putar melalui jalan yang berliku kami akhirnya menjumpahi satu air terjun yang lumayan deras. Lho....kok satu katanya tujuh?. Ternyata itu adalah air terjun yang dinamakan warga Ringin Gantung. Dan air terjun sumber pitu ada di seberang air terjun ini. Dan kita di haruskan menyeberang sungai aliran air terjun Ringin Gantung ini.

Sial tak dapat di tebak tiba tiba hujan datang dengan derasnya. Kami semua panik mencari perlindungan. Kami melihat dari jauh ada kain terpal menutupi sebuah proyek entah apa. Kami bergeas menghampirinya. Saat menyeberang sungai adik ipar saya terpeleset dan terkilir jari tanganya. Kami semakin panik karena aliran sungai bertambah deras dan keruh. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah gubug terpal yang ternyata sebuah proyek pembangunanan DAM oleh PDAM Kabupaten dan Kota Malang untuk disalurkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat Kabupaten Malang dan Kota Malang
Ternyata sudah ada beberapa pengunjung yang berteduh di sini. Kami semua basah kuyup. Jas hujan yang kami pakai tak bisa sepenuhnya melindungi kami dari basah. Saat itu kami fokus mengobati jari tangan si adik ipar. Untung gak sebegitu parah. Saya dan istri bergantian mengurut tangan adik yang terkilir.
 
proyek pembangunan DAM

air terjun sumber pitu

sumber pitu

air terjun ringin tunggal sangat keruh

terjebak  di tenda

sungai yang kami lewati

air terjun ringin gantung

suasana dalam tenda

Sial sekali lagi ternyata hujan tak kunjung reda. Sekian lama kami menanti hujan sambil menahan rasa lapar. Namun, harapan tak kunjung datang. Kami hanya bisa bercengkrama dengan pengunjung yang lain. Hingga jam menunjukkan pukul 4 sore tak ada tanda tanda hujan reda. Kami nekad harus pulang. Sebab jika tidak, kami bisa kemalaman di jalan. Sebelumnya saya sempatkan memfoto air terjun sekenanya walau dalam derasnya hujan. Saat perjalanan pulang, kami tidak bisa mengambil jalan yang semula karena sungai telah meluap dan menutupi jalan yang tadi kami lewati. Atas anjuran pengunjung lain kami bisa melewati jalan pintas lewat tangga bambu yang ada di sebelah air terjun Ringin Gantung.

Benar benar pengalaman yang extrim. Kami bertiga memanjat tangga bambu yang tegak lurus setinggi hampir 10 meter dalam kondisi hujan deras dan hari menjelang gelap. Mau gak mau gak ada pilihan lain. Kami bertahap untuk mendaki untuk menghindari resiko bahaya. Sampai di atas kami melewati jembatan kecil yang merupakan sungai aliran atas dari air terjun Ringin Gantung. Kami bergegas berjalan melewati jalur baru yang belum kami kenal. Sampai kami menemukan percabangan jalan yang kami lewati tadi.kami sampai di tempat parkir pas dengan datangnya adzan maghrib dengan keadaan basa kuyup dam meggigil kedinginan.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi. Kami di persilahkan oleh tuan rumah pemilik tempat parkir untuk berteduh dan di buatkan kopi serta di bingkiskan oleh oleh. Wah baik benar penduduk sini. Ramah ramah lagi. Ternyata mereka juga memiliki ladang di dekat air terjun tadi. setelah ngobrol agak lama kami memutuskan pamit. Tak lupa kami mengucapkan banyak banyak terima kasih atas kebaikan mereka semua selama kami di sini.

Saran saya jika anda ingin mengunjungi air terjun Sumber Pitu Tumpang hindarilah musim penghujan. Karena resiko perjalanan yang besar. Selain itu jika menikmati saat musim kemarau, kita bisa menikmati pemandangan sekitar air terjun tanpa takut jalan yang becek serta air terjun yang keruh.

Mengunjung Hutan Pinus Nongkojajar yang ketiga kalinya



 
sore di hutan pinus
Entah kenapa saya gak bosan bosanya mampir ke tempat ini. Mungkin karena jajaran hutan pinusnya atau ada magnet tersembunyi yang membuat orang tertarik mengunjunginya. Hutan pinus Gendro atau hutan pinus Nongkojajar merupakan hutan pinus yang pantang di lewatkan. Perjalanan melewati tempat ini juga tak sengaja.  Saat saya bersama istri dan adik ipar hendak menuju kota tumpang, kami mencoba mencari jalur alternatif. Dan jalur ini lagi lagi terpilih

Sebenarnya rencana kami memang sowan ke kota Tumpang untuk mengunjungi Air Terjun Sumber Pitu yang ada di Poncokusumo.

Dari kota Sidoarjo kami berangkat pagi hari menuju kota Malang. Seperti biasa, mengingat ini adalah hari Minggu sudah dapat dipastikan kalo daerah kota Purwosari sampai Lawang macet. Kami memutar jalur biasanya yaitu jalur Nongkojajar. Singkatnya dari Sidoarjo menuju Purwosri kondisi jalan lancar jaya. Motor kemudian saya arahkan ke timur menuju kota Nongkojajar. Sampai pertigaan belok ke kanan menuju kota Pakis kemudian tak jauh dari pertigaan tersebut kami melihat hutan pinus desa Gendro yang dulu pernah kami singgahi. Iseng iseng kami mencoba mampir sambil menghilangkan penat di sini
 
adik ipar

menikmati hutan

jalan hutan pinus

berfoto berdua

pemandangan menyejukkan

Kondisi hutan pinus dengan jajaran pohon yang menjulang ini sangat sepi. Kesejukanya tetap terjaga. Beda dengan terakhir kali kami kesini. Namun sangat di sayangkan kami kesini saat musim hujan lagi deras derasnya sehingga jalan tanah yang ada di sekitar hutan pinus ini sangat becek. Namun hujan membuat kondisi pohon pinus semakin hijau.

Touring Sore Hari Menuju Kota Batu



Bingung dengan acara mengisi hari libur weekend, rasanya enak juga sesekali di lakukan dengan turing jarak pendek. Sabtu kemaren dikarenakan gak ada kegiatan, kesempatan untuk jalan jalan bareng istri kesampaian juga. Jalur turing yang saya ambil kali ini adalah dari Sidoarjo kota ke kota Batu lewat Trawas-Pacet- Cangar menuju Batu dan kembali pulang ke Sidoarjo namun melewati jalur arteri Lawang.
 
gerbang Tahuta R. Suryo
Perjalanan di mulai pukul 15.00 sore hari selepas pulang kerja. Melewati kota Pandaan namun berbelok ke arah barat menuju kota Trawas kemudian Pacet. Kenapa? Sebenarnya kami hanya ingin menikmati sorenya daerah pegunungan. Syukur syukur bisa menikmati sunset di perjalanan. Lalu lintas cukup padat di arah Pacet menuju desa Sendi dikarenakan memang musim liburan atau weekend sehingga banyak mobil dan motor hilir mudik melewati jalan

Sejenak kami berhenti di atas desa Sendi, tepatnya di daerah warung warung sebelum gapura masuk Tahura R Suryo untuk mendinginkan mesin motor sehabis melibas tanjakan Sendi yang terkenal curam tersebut dan juga menikmati sejuknya udara pegunungan yang sama sekali beda dengan udara di kota.ha....ha...

Selang kemudian, perjalanan kami lanjutkan memasuki hutan Tahura yang cukup rimbun dan sejuk. Beruntung keadaan jalan sudak diperbaiki menjadikan jalan ini mulai ramai di lewati kendaraan baik roda dua dan empat. Sampai di jembatan kembar Watu ondo kami berhenti sejenak mengambil beberapa foto dan menikmati sore di pinggir jembatan. Tempat ini meski tersembunyi akan ramai saat musim libur tiba dan banyak pedagang makanan dadakan yang sengaja menggelar dagangan di sekitar jembatan yang menjadi batas kota Batu dan Mojokerto tersebut
 
sungai di Cangar

jembatan Cangar

Gunung Welirang

pemandangan di Cangar

menikmati sore di Cangar



Kembali kami meneruskan perjalanan. Saat elewati depan pemandian Cangar kondisi mulai agak macet. Selidik punya selidik ternyata banyak mobil dan motor yang kesulitan melewati tanjakan di depan loket masuk pemandian Cangar yang menanjak dan berbentuk S tersebut. Tampak beberapa orang atau disebut polisi cepek berusaha membantu mengarahkan kendaraan yang naik dan turun tanjakan. Dan mereka mengharap imbalan beberapa Rupiah
 
alun alun kota Batu

sore di kota Batu

Selepas melewati Cangar perjalanan sempat menanjak namun tak terlalu curam. Memasuki desa Sumber Brantas sampai menuju kota Batu ternyata ramai lancar. Dan alhamdulilah kami sampai Alun Alun kota Batu dengan selamat.

Keindahan pantai kondang merak

pantai kondang merak Pantai Kondang Merak. Mendengar nama ini memang tidak familiar jika dibandingkan dengan nama pantai Balekambang...