Senin, 09 Februari 2015

Menengok Candi Brahu.sisa kejayaan kerajaan majapahit



  
Candi Brahu terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Tepat di depan kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang terletak di jalan raya Mojokerto-Jombang terdapat jalan masuk ke arah utara yang agak sempit namun telah diaspal. Candi Brahu terletak di sisi kanan jalan kecil tersebut, sekitar 1,8 km dari jalan raya. 

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Candi Brahu lebih tua dibandingkan candi lain yang ada di sekitar Trowulan. Nama Brahu dihubungkan diperkirakan berasal dari kata 'Wanaru' atau 'Warahu', yaitu nama sebuah bangunan suci yang disebutkan di dalam prasasti tembaga 'Alasantan' yang ditemukan kira-kira 45 meter disebelah barat Candi Brahu. Prasasti ini dibuat pada tahun 861 Saka atau, tepatnya, 9 September 939 M atas perintah Raja Mpu Sindok dari Kahuripan. Menurut masyarakat di sekitarnya, candi ini dahulu berfungsi sebagai tempat pembakaran jenasah raja-raja Brawijaya. Akan tetapi, hasil penelitian yang dilakukan terhadap candi tersebut tidak menunjukkan adanya bekas-bekas abu atau mayat, karena bilik candi sekarang sudah kosong.


 Di sekitar kompleks candi pernah ditemukan benda-benda kuno lain, seperti alat upacara dari logam, perhiasan dan benda-benda lain dari emas, serta arca-arca logam yang kesemuanya menunjukkan ciri-ciri ajaran Buddha, sehingga ditarik kesimpulan bahwa Candi Brahu merupakan candi Buddha. Walaupun tak satupun arca Buddha yang didapati di sana, namun gaya bangunan serta sisa profil alas stupa yang terdapat di sisi tenggara atap candi menguatkan dugaan bahwa Candi Brahu memang merupakan candi Buddha. Diperkirakan candi ini didirikan pada abad 15 M.
Candi ini menghadap ke arah Barat, berdenah dasar persegi panjang seluas 18 x 22,5 m dan dengan tinggi yang tersisa sampai sekarang mencapai sekitar 20 m. Sebagaimana umumnya bangunan purbakala lain yang diketemukan di Trowulan, Candi Brahu juga terbuat dari bata merah. Akan tetapi, berbeda dengan candi yang lain, bentuk tubuh Candi Brahu tidak tegas persegi melainkan bersudut banyak, tumpul dan berlekuk. Bagian tengah tubuhnya melekuk ke dalam seperti pinggang. Lekukan tersebut dipertegas dengan pola susunan batu bata pada dinding barat atau dinding depan candi. Atap candi juga tidak berbentuk berbentuk prisma bersusun atau segi empat, melainkan bersudut banyak dengan puncak datar.





Kaki candi dibangun bersusun dua. Kaki bagian bawah setinggi sekitar 2 m, mempunyai tangga di sisi barat, menuju ke selasar selebar sekitar 1 m yang mengelilingi tubuh candi. Dari selasar pertama terdapat tangga setinggi sekitar 2 m menuju selasar kedua. Di atas selasar kedua inilah berdiri tubuh candi. Di sisi barat, terdapat lubang semacam pintu pada ketinggian sekitar 2 m dari selasar kedua. Mungkin dahulu terdapat tangga naik dari selasar kedua menuju pintu di tubuh candi, namun saat ini tangga tersebut sudah tidak ada lagi, sehingga sulit bagi pengunjung untuk masuk ke dalam ruangan di tubuh candi. Konon ruangan di dalam cukup luas sehingga mampu menampung sekitar 30 orang. Di kaki, tubuh maupun atap candi tidak didapati hiasan berupa relief atau ukiran. Hanya saja susunan bata pada kaki, dinding tubuh dan atap candi diatur sedemikian rupa sehingga membentuk gambar berpola geometris maupun lekukan-lekukan yang indah.




Candi Brahu mulai dipugar tahun 1990 dan selesai tahun 1995. Menurut masyarakat di sekitarnya, tidak jauh dari Candi Brahu dahulu terdapat beberapa candi lain, seperti Candi Muteran, Candi Gedong, Candi Tengah dan Candi Gentong, yang sekarang sudah tidak terlihat.

Mengunjung Candi Sumberawan.sebuah candi sekaligus mata air



pintu masuk candi sumberawan

jangan lihat orangnya,lihat aja candinya


Candi Sumberawan terletak di Desa Toyomarto, kecamatan Singosari. Candi ini mungkin tidak berbentuk selayaknya candi pada umumnya, candi Sumberawan hanya berbentuk seperti stupa dan merupakan candi Budha dan peninggalan dari kerajaan Singhasari.


Candi Sumberawan merupakan peninggalan sejarah yang berasal dari sekitar abad 14 atau awal abad 15. Dalam prasasti Negarakertagama disebutkan bahwa, Candi Sumberawan diidentifikasikan sebagai Kasurangganan atau Taman Surga Nimfa dan telah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk dari Majapahit di 1359. Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada tahun 1904 dan pada 1937 diadakan pemugaran oleh pemerintahan Hindia Belanda pada bagian kaki candi. Candi sumberawan merupakan satu-satunya candi yang berbentuk stupa di Jawa Timur.

Candi Sumberawan tidak memiliki tangga naik ruangan di dalamnya yang biasanya digunakan untuk menyimpan benda suci. Jadi, hanya bentuk luarnya saja yang berupa stupa, tetapi fungsinya tidak seperti lazimnya stupa yang sesungguhnya. Diperkirakan candi ini dahulu memang didirikannya untuk pemujaan. Suasana yang teduh dan tenang di sekitar candi menjadikan tempat ini cocok untuk melakukan meditasi.
halaman candi
 Mengunjungi Candi Sumberawan, tidak hanya memberikan sedikit potret mengenai sejarah masa lalu Jawa pada era Hindu-Buddha, melainkan sebuah pengalaman spiritual di mana kedamaian dan keindahan alam merupakan perpaduan yang mengiringi kehidupan fisik dan rohani manusia. Dari telaga mata air pegunungan yang berada di kawasan Candi Sumberawan, ternyata menyimpan siklus yang mengaliri berkah bagi kesuburan sawah-ladang penduduk, serta ketergantungan manusia terhadap kelestarian alam semesta bagi kehidupan.


Sumber:

Informasi pada papan informasi (lembar keterangan) pada halaman dan kantor informasi Candi Sumberawan.
sekali lagi jangan lihat orangnya
di depan candi banyak mengalir sungai kecil


Tips Perjalanan:

o       -Dari Kota Malang, Anda bisa menaiki kendaraan umum ke arah Singosari (sekitar 1,5-2 jam perjalanan)     dan turun tepat di gapura bertuliskan Wisata Candi Singosari. Lokasi Candi Sumberawan masih terdapat di kawasan wisata candi serta situs bersejarah lainnya, tepatnya 6 km ke arah barat laut dari Candi Singosari. Jangan segan untuk bertanya pada penduduk sekitar karena penunjuk arah tidak terlalu jelas dan informatif.
o         -  Karena memiliki banyak candi dan situs bersejarah dengan jarak yang berjauhan, sebaiknya menyewa kendaraan bermotor di Kota Malang untuk mempermudah penelusuran menuju berbagai situs Kerajaan Singosari. Namun, terdapat banyak ojek yang bisa disewa untuk pulang-pergi. Sebaiknya tawarkan harga untuk berkeliling ke lokasi lebih dari satu candi dan situs lainnya dengan harga sekitar Rp 50 ribu untuk sewa sekitar setengah hari.
o        -  Biasanya, tarif kunjungan dikenakan biaya sebesar Rp 2.000, tapi sebaiknya berikanlah donasi lebih kepada penjaga atau juru kunci candi karena mereka dibayar dengan sangat rendah, bahkan secara sukarela.
o          -Rumah makan hanya banyak ditemukan di sekitar Candi Singosari, dengan variasi bakso dan hidangan Jawa Timur-an.

Arca Dwarapala,arca penjaga dari singasari




arca dwarapala
Arca Dwarapala terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari. Areal situs hanya berjarak sekitar 200 meter di sebelah barat Candi Singosari. Situs ini berbentuk dua arca dwarapala yang dibuat dari batu monolitik dengan ketinggian 3,75 meter dan lebar 3,85 meter. Dwarapala berasal dari kata Sanskerta dwara yang berarti pintu atau jalan dan pala berarti penjaga. Ada dua arca dwarapala yang berseberangan di kiri dan kanan jalan yang sekarang dinamakan Jalan Kertanegara. Kedua arca ini memegang gada. Arca di sebelah kanan dalam posisi santai dan tangan kanan memegang gada. Berbeda dengan dwarapala kanan, dwarapala kiri bertugas mengingatkan rakyat Singhasari pada masa itu tentang keagamaan. Tangan kanannya diangkat sejajar dengan dadanya dan dua jarinya dibuka sebagai tanda kemenangan dalam menjalankan perintah keagamaan.

Pada kedua arca ini terdapat mahkota yang dihiasi dengan ukiran ular dan gugus tengkorak. Pada telinganya juga memakai giwang yang bermotif tengkorak yang disebut sebagai kepala gundala. Pada lehernya juga terdapat kalung dari rangkaian tengkorak. Pada badannya berselempang hiasan ular yang menyilang di punggungnya yang disebut Yajnapavita. Pada lengannya melingkar kilat bahu bermotif ular yang disebut Sarpokenyura. Pada pergelangan tangannya memakai gelang yang disebut Bhujangga vasaya. Pada pergelangan kakinya melingkar pula benggel yang bermotif ular yang disebut Bhujangga nupura.
Kedua arca dwarapala di Singosari ini diperkirakan belum berubah dari posisi semula. Beratnya mencapai 40 ton dan jarak kedua arca 50 meter. Posisi tersebut dapat dipergunakan untuk menentukan arah jalan memasuki istana kerajaan Singhasari. Keberadaan kedua arca itu menunjukkan bahwa lokasi itu pada masa lalu merupakan pintu gerbang dari kerajaan Singhasari, sebab fungsi arca dwarapala di masa lalu memang sebagai symbol dari penjaga pintu atau pintu gerbang. Sekalipun keberadaan dua arca dwarapala menunjuk pada kemungkinan pintu gerbang kerajaan di masa lalu, namun hingga saat ini belum dilakukan rekonstruksi untuk mengetahui di manakah letak istana Singhasari secara tepat apakah di sebelah barat atau timur dwarapala karena situs bangunan istana Singhasari sampai sekarang belum diketahui pasti letaknya.
Jika kita memasuki kedua celah arca ini menuju ke sebelah barat, berarti kita melewati jalan utama.

Namun jalan utama ini telah dipadati oleh rumah-rumah penduduk. Lewat jalan utama ini ke arah barat sampailah pada sebuah telaga dan di atas telaga ini ada sebuah bukit yang kemungkinan di situlah letak istana Singhasari. Desa Sanggrahan yang terletak di sebelah barat istana, pemandian Ken Dedes, serta banyaknya sumber-sumber air yang berada di lereng Gunung Arjuno menambah keyakinan tentang letak istana Singhasari. Istana Singhasari dikelilingi oleh benteng alam yang berupa Sungai Klampok, gunung, dan parit buatan yang sekarang disebut Kali Mati. Di daerah Singosari memang banyak nama-nama desa yang memiliki keterkaitan dengan kerajaan Singhasari. Nama Desa Gunungrejo di barat kota Singosari misalnya, tampaknya memiliki kaitan dengan kata Gunung Raja atau Raja Gunung yakni Girinatha atau Girindra, nama Bhatara Siwa atau Bhatara Guru yang pernah dipakai sebagai gelar oleh Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi. Desa Tamanharjo dan Kebonagung tampaknya merupakan situs bekas taman keputren di dalam puri kerajaan. Nama Desa Toyomarto juga tampaknya berkaitan dengan Tirtamrtha.

Jika kita bertolak dari ajaran Siwa terutama yang berkaitan dengan keberadaan dua arca dwarapala atau penjaga gerbang, maka kita dapat menyimpulkan bahwa dua arca dwarapala itu sebenarnya berada di sebelah barat istana Singhasari. Sebab dalam ajaran Siwa ditetapkan bahwa Siwa bersemayam di puncak Kailasa yang digambarkan dalam wujud lingga. Pada pintu gerbang sebelah timur terdapat penjaga utama yakni Ganesha atau Ganapati. Pada pintu gerbang utara terdapat penjaga utama yakni Bhattara Gori. Pada pintu gerbang selatan terdapat penjaga utama yakni Rsi Agastya. Sedangkan pada pintu gerbang barat terdapat dua penjaga yakni Kala dan Amungkala. Dengan demikian dua arca dwarapala yang dianggap sebagai penjaga pintu gerbang Singhasari dapat disimpulkan sebagai penggambaran tokoh penjaga pintu gerbang sebelah barat Siwa yakni Kala dan Amungkala, di mana kalau simpulan ini benar maka letak istana Singhasari berada di sebelah timur dua arca tersebut

Keindahan pantai kondang merak

pantai kondang merak Pantai Kondang Merak. Mendengar nama ini memang tidak familiar jika dibandingkan dengan nama pantai Balekambang...